Wednesday, September 21, 2022

Apa itu Vaksin Nusantara? Ini Bedanya Dengan Sinovac

JAKARTA– Guru Besar dari Universitas Airlangga Chairul Anwar Nidom menjelaskan perbedaan Vaksin Nusantara dari vaksin Covid-19 lainnya.

Vaksin yang disebut AntiCovid-19 itu dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama timnya dari Semarang, Jawa Tengah, dan juga Amerika Serikat.

“Bedanya terletak pada motor aktivitasnya,” ujar dia saat dihubungi Senin sore, 22 Februari 2021.

Menurut Nidom yang juga Ketua tim Laboratorium Professor Nidom Foundation (PNF), vaksin konvensional secara umum disuntikkan ke seseorang dengan antigen (virus inaktif atau subunit protein). Kemudian, tubuh dibiarkan melakukan proses pembentukan antibodi.

Ini seperti yang dilakukan pada vaksin Sinovac yang telah didistribusikan di tanah air maupun yang lainnya di negara lain. 

Vaksin Sinovac adalah vaksin berjenis inactivated vaccine atau virus mati. Secara singkat inactivated vaccine adalah vaksin menggunakan versi lemah atau inaktivasi dari virus untuk memancing respons imun.

Vaksin inactivated memerlukan beberapa dosis dari waktu ke waktu untuk mendapatkan imunitas berkelanjutan terhadap penyakit.

“Jadi tidak aneh saat ini bisa dijumpai setelah vaksinasi ada yang belum terbentuk antibodinya. Ada antibodi, tapi tidak protektif. Ada antibodi yang protektif tapi orang itu masih terinfeksi virus,” kata Nidom memaparkan lebih lanjut.

Vaksin Nusantara berbeda. Vaksin ini berbasis sel dendritik yang disebut Nidom sebagai pabrik antibodi. Sel tersebut yang sudah dirangsang/digertak di luar, lalu disuntikan ke seseorang. Diharapkan, sel dendritik ini akan memproduksi antibodi yang siap menetralisir virus yang menginfeksi.

Vaksin Nusantara, diterangkannya, merupakan inisiatif dari teknologi vaksin terhadap kanker. Bedanya, jika dalam terapi kanker sel itu dirangsang dengan protein kanker, dalam teknologi Vaksin Nusantara diganti dengan protein virus Covid-19.

“Saat sel dendritik tua, maka sel itu akan menularkan kemampuannya menetralisir virus kepada sel dendritik yang lebih muda,” kata dia sambil menambahkan, “Sehingga tidak keliru kalau dikatakan antibodi Vaksin Nusantara seumur hidup.”

Baca juga :  Ramadhan Tiba! Ini Dia Tips Atur Pola Minum Agar Tidak Haus Sebelum Berbuka

Namun, profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu menjelaskan, persoalan yang dibincangkan saat ini lebih terletak pada istilah vaksinasi yang diharapkan bisa membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Hal ini karena Vaksin Nusantara yang metodenya bersifat individual.

Nidom berasumsi tim Vaksin Nusantara sudah tahu cara membuatnya untuk kelompok dan mencari tahu sumber sel dendritik yang bersifat homologus, dan bisa digunakan untuk semua orang. Sel itu disebutnya berbeda dari individu bersifat autologus.

“Saat ini informasinya seolah-olah belum terbuka, mungkin masih disimpan. Di sisi lain kita tahu vaksin adalah bisnis besar,” ujar Nidom.

Vaksin Nusantara diklaim telah menjalani uji klinis fase 1 dan hasilnya sudah berada di tangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dievaluasi. Lantaran berasal dari sel yang diambil dari tubuh penerima, Anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara, Yetty Movieta Nency, mengklaim, vaksin dari sel dendritik ini punya kemungkinan yang kecil untuk menimbulkan infeksi.

Itu, menurut Yetty, ditunjukkan lewat hasil uji awal (tahap 1) yang diakunya tak ditemukan efek berlebihan. Dia menyebutkan efek sampingnya minimal, berjalan singkat, dan tak perlu pengobatan. 

“Vaksin Nusantara tergolong aman, lantaran tak ada tambahan adjuvan maupun komponen binatang. Hal tersebut sekaligus meyakinkan masyarakat terhadap status halal vaksin Covid-19,” kata dia menambahkan.

Vaksin SinovacVaksin Nusantara
Berbasis Antigen (inactivated vaccine)Berbasis sel dendritik
Menimbulkan efek samping untuk beberapa orangEfek sampingnya minimal
Memerlukan perawatanTidak memerlukan perawatan
Perbedaaan Vaksin Sinovac dan Nusantara sejauh ini dihimpun dari berbagai sumber

Comment
Rahman
Rahmanhttps://gubukinspirasi.com
Redaktur Gubuk Inspirasi dan pegiat sastra yang menggelar Perpustakaan Jalanan Besuki membaca setiap hari Sabtu dengan slogan, "Baca gratis seperti udara yang kau hirup"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler