PROBOLINGGO – Bersamaan dengan mulai aktifnya masa perkuliahan semester genap serta mulai diterapkannya sistem Hybrid Learning di Universitas Nurul Jadid. Tepat pada hari Senin (06/04/21) Universitas Nurul Jadid mengadakan kuliah tamu Pendidikan Anti Korupsi.

Dalam kuliah tamu yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Nurul Jadid tersebut, turut diundang sebagai pembicara Bapak Dr. Nurul Ghufron, Wakil Ketua KPK RI.

Kegiatan kuliah tamu pendidikan anti korupsi tersebut mengambil tema “Pendidikan Anti Korupsi sebagai Solusi Generasi Bersih”

Pembawa acara dalam kuliah tamu tersebut, dalam pembukaannya menjelaskan dan memaparkan kembali sambutan dari Rektor Universitas Nurul Jadid terkait dengan kegiatan kuliah tamu yang dilaksanakan tersebut.

“Korupsi ini cukup berbahaya, karena tidak hanya merusak manusia namun juga merusak sistem” terang pembaca acara sebelum sesi utama dimulai.

Sebagai pembukaan, Nurul Ghufron memaparkan tentang temuan perihal Indeks Persepsi Korupsi dari berbagai negara.

Beliau memaparkan kondisi IPK Indonesia yang mengalami kemerosotan dari 40 pada tahun 2019 menjadi 37 pada tahun 2020. Hal ini membuat Indonesia berada di peringkat 102 dari 180 negara yang dilibatkan. Posisi ini membuat Indonesia berada di peringkat yang sama dengan Gambia.

Data tersebut diperoleh dari Transparency International Indonesia (TII). Organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik itu memang rutin mengeluarkan skor IPK setiap tahunnya. Skor berdasarkan indikator 0 (sangat korup) hingga 100 yang berarti (sangat bersih).

Setelah memaparkan perihal temuan data tersebut, Ghufron kemudian bercerita dan menjelaskan banyak perihal pentingnya pendidikan anti korupsi.

Dibahas dan dipaparkan dengan gaya yang asyik dan sesekali dicampur dengan penggunaan bahasa lokal, bahasa Madura. Sesi pemapara Ghufron menjadi cukup seru dan interaktif.

Baca juga :  BEM Unuja Tegaskan Mahasiswa Segera Ambil Sertifikat Ospektren 2019

Dalam penutupnya, Ghufron mengungkapkan harapannya terhadap generasi muda dan pondok pesantren agar bisa kembali menunjukkan diri dan menjadi pejuang seperti yang pernah terjadi dalam sejarah panjang kemerdekaan Indonesia.

(Rhmn)

Klik disini untuk share