Sunday, October 2, 2022

Biografi Bung Tomo – Pahlawan Nasional Indonesia

Sutomo atau kerap disapa dengan Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena perannya dalam membangkitkan semangat rakyat Surabaya melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945, yang saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa 10 November 1945 yang sekarang dikenal sebagai Hari Pahlawan, merupakan satu peristiwa heroik segenap rakyat Indonesia, dalam mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan, pada 17 Agustus 1945.

Peristiwa bersejarah ini, dipicu oleh tewasnya Brigadir Jenderal AWS Mallaby, dalam pertempuran di Surabaya, Jawa Timur. Dalam peperangan itu, Mallaby tewas terpanggang di dalam mobil yang ditumpanginya, diduga akibat terkena lemparan granat, saat melintas di depan Gedung Internatio

Salah satu tokoh penting dalam peristiwa tersebut adalah Bung Tomo. Berkat pidato-pidatonya selama peperangan yang terjadi di Surabaya, Ia berhasil mengangkat moral dan membakar semangat perjuangan yang berujung kepada pertempuran 10 November yang legendaris.

Bung Tomo dilahirkan di daerah Kampung Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, pegawai kelas menengah yang mengabdi di pegawai pemerintahan. Ibunda Bung Tomo memiliki darah campuran antara Jawa Tengah, Madura dan Sunda.

Berikut biografi bung Tomo yang harus kamu baca untuk menambah pengetahuan kamu!

1. Bung Tomo dilahirkan dari keluarga religius

Di balik sosok pemberaninya yang tak gentar menghadapi penjajah itu, rupanya Bung Tomo merupakan pria yang religius dan saleh. Hal itu tentu banyak diketahui oleh orang terdekat yang mengenalnya.

Dikutip dari biografi Bung Tomo dari Abdul Wahid pada tahun 2019, sifat religius itu sudah ditanamkan oleh keluarganya sejak Bung Tomo kecil. Amalan ibadah wajib dalam syariat Islam seperti salat, puasa, ngaji, dan zakat menjadi fondasi kuat kehidupannya sehari-hari.

Baca juga :  Sejarah Hari Pahlawan 10 November dan Peristiwa di Baliknya

2. Bung Tomo dengan banyak tokoh Islam

Karena pengetahuan agamanya yang luas, Bung Tomo pun memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh Islam di Nahdlatul Ulama (NU), termasuk KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri organisasi itu.

Bahkan, ia sering meminta nasehat dari para ulama NU ketika akan berjuang melawan penjajah. Kalimat takbir menjadi ciri khas Bung Tomo setiap membuka orasinya yang membuat rakyat Surabaya bergetar.

3. Bung Tomo pernah mengkritik Soekarno soal poligami

Saking religiusnya, Bung Tomo kerap mengkritik sejumlah elite negeri yang suka berpoligami alias memiliki banyak istri. Tak tanggung-tanggung, Presiden Soekarno adalah salah satu orang yang pernah dikritiknya.

Menurut dia, poligami bisa merusak keutuhan rumah tangga. Sampai akhir hidupnya, Bung Tomo setia dengan istrinya, yaitu Sulistina. Bersama Sulistina, Bung Tomo memiliki empat anak.

4. Bung Tomo meninggal dunia ketika sedang menjalankan ibadah haji

Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, ketika sedang menjalankan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci di tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Tanah Air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya, sesuai permintaannya.

Bung Tomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008 melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh.

Comment
Rahman
Rahmanhttps://gubukinspirasi.com
Redaktur Gubuk Inspirasi dan pegiat sastra yang menggelar Perpustakaan Jalanan Besuki membaca setiap hari Sabtu dengan slogan, "Baca gratis seperti udara yang kau hirup"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler