Saturday, October 1, 2022

Ketika Salamah Bercerita

Perjalanan panjang mengantarkanku pada sebuah tempat yang tak banyak orang tahu. Tempat yang masih bisa dibilang penuh ketertinggalan dan peradaban manusia yang canggih.

Masih adakah? Tentu, bahkan tempat ini tak kenal teritorial kota dan desa. Hanya pikiran dan perasaan waras yang dapat mengantarkan dengan jalan kesadaran. Tempat itu adalah pertaruhan hidup kita sendiri. Sejauh mana orang memahami perempuan dan memuliakannya, di situlah peradaban manusia tidak akan memenuhi klasifikasi tertinggal.

Pada tulisan ini aku ingin bertukar cerita kepada orang-orang yang masih menyandang predikat waras dan kehormatannya sebagai manusia masih terjaga. Semoga saja. Aamiin.

Sebenarnya sudah banyak kanal media yang telah berusaha dan mengampanyekan tentang keadilan gender. Berawal dari kasus-kasus kecil hingga kasus-kasus besar yang merebak dan menjamur. Dinilai menjadi sebuah kebiasaan sampai pada titik “percuma”.

Baiklah, kita mulai pelan-pelan saja ceritanya.

[Part 1]

Namaku Salamah, sebentar lagi usiaku memasuki fase berbadan dua yang tak juga kunjung menikah. Sematan perawan tua sudah menjadi makanan sehari-hari. Asalku dari sebuah kampung yang tidak terlalu keren-keren amat, pun tidak pernah dilirik oleh pejabat. Mungkin hanya menjadi bisik-bisik project  baru para investor kesiangan, melahap beberapa panjang sawah kepunyaan tetangga dan salah satu sanak keluarga yang disulapnya dari tangan-tangan beton lahirlah jalanan tol yang notabene akan menjadi incaran para kaum-kaum bourjue. Mendengarnya saja sudah membuat hati tercabik-cabik.

Di segmen lain, para tetangga dan salah satu sanak saudara telah disulap pemikiran dan impian-impiannya dengan dollar. Mereka sudah masuk dalam perangkap “Kerja-kerja pemerintah untuk investor berinfestasi di dalam negeri’. Keterbuaian itu melahapnya pada apa-apa yang dicita-citakan bersama menuju kepentingan bersama, pada akhirnya beralih fungsi menjadi “Kepentingan bersama para cukong-cukong negara, makmur untuk golongan mereka, sementara kita menjadi budak di bumi pertiwi”.

Lain dari kerugian-kerugian lainnya, ada yang paling penting untuk dibahas. Bagaimana nasib perempuan dan anak cucu kami, generasi selanjutnya? Akankah mereka merasakan bagaimana nikmatnya Indonesia Emas ditahun 2045? Sedang sawah dan ladang kami telah disulap menjadi beton, menjadi jalanan tol yang terencana 173 kilometer antara Probolinggo-Banyuwangi. Akankah kami tetap menghirup udara bersih yang jauh dari polusi? Dan hujan, akan selalu jarang hadir di tempat kami, sebab krisis air telah terjadi secara pelan-pelan. Menyusuri beberapa desa yang ada. Siapa yang akan bertanggungjawab setelah ini? Siapa yang paling diuntungkan? Siapa yang paling dirugikan?

Jelas, jawabannya sangat jelas di depan mata kita. Dari sekian banyak pertanyaan yang ku sodorkan itu, perempuan dan anak lah yang paling dirugikan. Isi alam yang selalu dikeruk juga berdampak besar terhadap keterpurukan dan keberlangsungan hidup masyarakat kecil. Mungkin hujan akan hadir tapi tidak berlangsung cepat atau sesuai dengan musimnya, akan sangat jarang. Udara pun tetap kami hirup, tapi tidak lagi seperti biasanya. Kami diajari menerima dari keadaan-keadaan yang terjadi. Udara dan air bersih hanya menjadi angan-angan para masyarakat pinggiran. Para buruh tani akan miskin garapan, sebab sudah tak ada ladang yang akan digarap. Para kaum ibu, akan bersusah payah menjalani kehidupan selanjutnya. Semisal aktivitas cocok tanam di ladang, memasak, mandi dan aktivitas hidup sehat yang ala kadarnya itu akan sulit dijangkau. Banjir darah akan terjadi di mana-mana sebab kelaparan dan kekeringan. Sedang aktivitas hidup sehat yang normal hanya milik mereka para kaum elit yang rajin menginvestasi modal.

Baca juga :  Nahdlatun Nisa’ (Kebangkitan Perempuan) “Emansipasi Tidak Selalu Tentang Pemberontakan"

Keuntungan?keuntungan hanya bagi mereka yang rajin menanam modal dengan alih-alih cinta tanah air dan bangsa. Berbicara hal ini yang paling berbahaya jika proyek itu terealisasi dengan sempurna bagaikan mimpi di ladang gembala bagi rakyat bawah.

Para bocah berjalan lunglai, tidak lagi bisa melihat surganya pedesaan. Kebiasaan ibu dan anak hanya  akan menjadi cerita legenda yang akan datang. Citanya direnggut dan dimanipulasi demi kepentingan beberapa golongan. Cintanya, abadi untuk negeri pertiwi.

Cerita itu bukan hanya bualan dan fiksi belaka, tuan dan puan. Bukan juga bermaksud menghegemoni sebuah perlawanan. Setidaknya nurani kita, kemanusiaan kita tetap ada dan terjaga. Kewarasan berpikir kita tetap dipakai. Walaupun project itu telah dimulai, dan suara mahasiswa di tahun 2019 lalu sangat tuli untuk didengar.

[Part 2]

Dua bulan lalu, adikku bercerita tentang kelulusannya. Dalam ceritanya dia sangat antusias sekali, pencapaiannya jauh dari tahun lalu. Dapat dikatakan sangat baik atau mumtaz. Ada lagi, dia juga dapat beasiswa jalur undangan untuk melanjutkan studi S1nya di luar kota. Alhamdulillah, saya sebagai kakak sangat bangga mendengar hal ini. Tentu juga tidak lupa mengapresiasi prestasi yang diraih. Ohh, sungguh sangat mujur sekali nasib adikku.

Adikku, enam tahun ia mengabdikan dirinya di pesantren. Sekolah dan mengaji pada abah Kiai dan bunda Nyai di salah satu pesantren termasyhur di kota kami. Pesantren yang sangat dipercayai sebagai tempat paling aman untuk tumbuh kembang anak, baik secara pikiran dan adab. Jauh dari kenakalan remaja, aborsi, dan yang lainnya.

Orang tua mana yang tidak bangga, kalau anaknya sudah menyandang predikat santri. Keluarnya pasti sudah terjamin cerah masa depan dan tentu barokah dari abah Yai dan bunda Nyai (sebuah pengharapan yang terpupuk sejak awal mereka dititipkan pada pondok).

Mungkin, cukup sampai di situ cerita-cerita baik tentang adikku. Ada yang lebih mengerikan dan nyeri di kepala. Dia mulai melanjutkan ceritanya setelah ini.

Pesantren yang menjadi tempat aman untuk tumbuh kembang anak, pun pesantren yang memiliki visi membentuk karakter santri yang tawadhu’, paham ilmu-ilmu islam dan yang lainnya, kini berafiliasi menjadi tempat paling seram dan dapat menyerang mental seorang santri wabilkhusus santriwati. Bukan hanya mental, tapi juga harga diri dan kehormatannya sebagai perempuan diperlakukan seenaknya dan senyamannya hukum pesantren. Sebuah hukum yang tidak ada hitam di atas putih.

Baca juga :  Sabar itu Indah

Peristiwa-peristiwa ini bukan hanya terjadi sekali dua kali, tapi telah banyak memakan korban, hanya demi pemuas nafsu seorang Gus muda pesantren tersebut. Seharusnya orang yang sudah punya ilmu dan derajatnya dipandang bisa mencontohkan hal-hal baik itu pada santrinya malah berbanding terbalik menjadi seratus delapan puluh derajat. Yang paling menyakitkan juga, tidak ada keberpihakan orang-orang pesantren terhadap korban. Terlebih, korban dikeluarkan dan diputus pendidikannya. Di usia korban yang masih belia dan berlatarbelakang dari keluarga tidak mampu, beli beras pun harus hutang pada tetangga. Bernapas pun di hari selanjutnya sudah untung. Lagi-lagi hukum juga tidak dapat berpihak karena telah dibungkam oleh pemangku tertinggi pesantren. Selain nama baik pesantren juga harus baik di mata masyarakat dengan berbagai cara. Faktor tersebut menjadikan kasus ini hilang dan tak pernah dibahas oleh media. Masa depan yang ditata sebegitu cerahnya bersama teman-teman sebaya lekang dimakan syahwat Gus muda yang tak bisa terbendung itu.

Kalau pun pesantren adalah tempat tumbuh kembang anak yang suci telah dinodai semacam ini karena salah satu oknum, di manakah kita akan mendapatkan suasana aman dan nyaman? Suasana yang menjungjung kehormatan seorang perempuan dan laki-laki sebagai manusia yang Memanusiakan  manusia.

Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan nama pesantren. Rupanya perbedaan kelas antar proletar dan bourjuis tidak bisa dihilangkan dengan mudah membalikkan telapak tangan. Masih sangat kental mana yang lebih mendominasi dan tidak. Masih jauh dari kata “Mencapai kemanusiaan yang sebenarnya”. Sejatinya pelecehan seksual tidak memandang ras, agama, dan etnik lainnya. Tidak memandang kapan dan di mana. Juga bukan solusi yang tepat, bila korban dinikahkan dengan tersangka. Hal itu akan memicu psikologis dan traumatik terdalam bagi korban.

Ini juga bukan maksud berkampanye. Tapi mendobrak mindset masyarakat konservatif untuk lebih satu langkah kedepan, open minded. Mari bersama-sama mengesahkan RUU PKS. Mari sama-sama merangkul satu sama lain. PR besar bagi kita, terutama yang telah khatam sekaligus paham tentang keadilan gender. Selamat menikmati tulisan yang masih compang-camping ini. Salam Takzim teruntuk orang-orang baik.


* Tulisan ini sudah diterbitkan sebelumnya dalam buku kumpulan esai perempuan berjudul “Woman Talk : Ketika Perempuan Angkat Suara”


Sitti Rohmah, lahir di tanah Situbondo, 17 Juli 1999. Dapat ditemui di Fakultas Ilmu Budaya Unej. Mahasiswa yang berusaha menyelesaikan studi S1-nya. Berani bertaruh, dan suka memilin air mata saat hujan bersila. Dapat ngobrol dengannya di kios kopi angkringan kecil pinggir jalan atau kalau malu, bisa chatt di via WA: 082232113662, atau kalau tambah malu lagi, sila gmail: [email protected]. Salam Literasi !

Kirim karya Gubuk Inspirasi
Comment
Rahman
Rahmanhttps://gubukinspirasi.com
Redaktur Gubuk Inspirasi dan pegiat sastra yang menggelar Perpustakaan Jalanan Besuki membaca setiap hari Sabtu dengan slogan, "Baca gratis seperti udara yang kau hirup"

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler