Thursday, October 6, 2022

Perlukah Bahasa Resmi untuk ASEAN?

Diskusi tentang perlunya bahasa resmi untuk ASEAN mulai kembali naik ke publik belakangan ini.

Pernyataan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob pada lawatannya ke Indonesia, terkait memperkuat bahasa Melayu sebagai bahasa perantara antara kedua kepala negara, serta sebagai bahasa resmi ASEAN merupakan asal muasal dari naiknya isu tersebut.

Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya pengusulan tersebut tidak salah mengingat bahasa Melayu merupakan bahasa yang memiliki nilai sejarah, hukum dan linguistik yang cukup memadai.

Bahasa Indonesia sendiri juga merupakan bahasa Melayu yang kemudian disempurnakan. Lantas, mengapa usulan tersebut menjadi sebuah perbincangan yang panas? Banyak dibicarakan di sosial media dan menjadi topik perdebatan netizen? Mari Kita telaah bersama-sama.

Akar Bahasa dan Sejarah Bahasa Melayu

Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatra, di wilayah yang sekarang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.

Istilah “Melayu” sendiri berasal dari Kerajaan Minanga (Malayu) awal yang bertempat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Akibat penggunaannya yang luas, berbagai varian bahasa dan dialek Melayu kemudian berkembang di Nusantara.

Bahasa Melayu berasal dari rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Malaka.

Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di Brunei Darussalam, Indonesia (disempurnakan sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia): bahasa nasional Singapura: dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai Bahasa Indonesia) serta beberapa daerah dan negara lainnya.

Sejarah juga mencatat bahwa pada abad ke-7 bahasa Melayu menjadi basantara (lingua franca) yang digunakan di Nusantara dalam kegiatan keagamaan dan perdagangan pada kala tersebut.

Bahasa Melayu kemudian mengalami migrasi melalui media perdagangan hingga tersebar luas dan digunakan di berbagai negara lain tidak terbatas kepada negara-negara di semenanjung Malaka bahkan sampai ke benua Australia dan Afrika.

Jika menengok latar sejarah yang begitu panjang dan kaya tersebut, tentu penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN dapat memperoleh sebuah nilai  positif jika ditilik dari sejarahnya. Namun, perlu juga dilakukan penelaahan terhadap perkembangan bahasa Melayu itu sendiri.

Baca juga :  Nahdlatun Nisa’ (Kebangkitan Perempuan) “Emansipasi Tidak Selalu Tentang Pemberontakan"

Lantas, sebuah pertanyaan muncul “Bahasa Melayu mana yang akan dijadikan bahasa resmi ASEAN kemudian?”

Bahasa Melayu Malaysia? Bahasa Melayu Indonesia? Atau bahasa Melayu lainnya? Penegasan akan gagasan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN adalah sangat perlu dan dalam bentuk bahasa yang mana.

Bahasa Melayu dan Keberagaman ASEAN

Bahasa negara-negara ASEAN
Bahasa Negara ASEAN dan rumpun bahasanya / Infografis oleh Rahman

Perlu dipahami, bahasa Melayu, selain disempurnakan sebagai bahasa Indonesia, juga berkembang dan mengalami modifikasi yang sedemikian rupa. Jika ditilik dari pandangan linguistik, bahasa Melayu modern terdapat sekitar 45 bahasa yang digunakan di berbagai daerah dan negara yang disatukan dalam rumpun bahasa Melayu.

Perkembangan bahasa Melayu sendiri tidak hanya terbatas kepada dialek seperti bahasa inggris dengan beragam aksennya namun juga kepada kosakata dan bentuk bahasanya. Keberagaman tersebut dapat menjadi sebuah kendala dalam proses komunikasi negara-negara ASEAN.

Selain itu, negara-negara ASEAN memiliki rumpun bahasa yang juga beragam dan tidak terbatas kepada bahasa Melayu yang berkembang di semenanjung Malaka saja. Vietnam dan Kamboja menggunakan bahasa Kmer yang merujuk kepada Mon-Khmer dari rumpun bahasa Austroasia.

Thailand menggunakan bahasa Thai yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Tai dari kelompok bahasa Tai-Kadai yang diperkirakan berasal dari Tiongkok. Hal tersebut juga nampak dimana kedua bahasa (Tiongkok dan Thailand) memiliki persamaan dimana terdapat banyak homograf di dalam kosakatanya.

Keberagaman tersebut nampak akan menjadi sebuah hambatan yang cukup berarti dalam penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN. Hal ini berbeda dengan negara-negara Eropa yang tidak memiliki banyak perbedaan dalam rumpun kebahasaannya.

Kemendikbud Indonesia memberikan respon tegas penolakan terhadap usulan PM Malaysia tentang penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN dan menilai bahwa bahasa Indonesia lebih cocok dan memiliki nilai historis, hukum dan linguistik yang lebih kaya serta didukung oleh beberapa fakta dan data lainnya.

Baca juga :  Kesetaraan Gender : Tentang Persamaan Bukan Inferioritas

Klaim tersebut tidak bisa disalahkan, namun juga perlu dikaji sebagaimana bahasa Melayu Kita kaji secara seksama di awal tulisan ini.

Kembali ke pertanyaan semula, lantas apakah bahasa resmi untuk ASEAN adalah hal yang dibutuhkan? Jika melihat perkembangan yang ada, bahasa resmi untuk ASEAN bukanlah hal yang cukup mendesak untuk ditetapkan.

Bahasa, pada dasarnya merupakan sebuah alat. Alat yang digunakan untuk berkomunikasi. “Traditionally it is stated that language is a tool to interact or tools to communicate, in a sense, means to convey thoughts, ideas, concepts, or even a feeling.”

Intisari dari komunikasi sendiri adalah pertukaran informasi dengan berbagai tujuan antara komunikan dan informan dalam prosesnya.

Jika melihat dinamika yang terjadi, pembahasan dan penguatan ekonomi lokal dan kawasan seharusnya lebih disoroti dan dibahas bersama-sama mengingat kondisi pandemi yang sudah mulai melandai dan merupakan fase krusial dan penting untuk mulai membangun kembali ekonomi lokal dan wilayah.

Bisa disimpulkan bahwasanya, pemilihan ataupun penentuan bahasa resmi bukan merupakan sebuah hal yang urgent dan tidak perlu dipaksanakan maupun disuarakan pada saat ini.

Secara singkat, berdasarkan fakta dan kondisi yang terjadi. Bisa ditarik sebuah penilaian bahwasanya ASEAN saat ini tidak perlu untuk memiliki bahasa resmi pada saat ini.

Perbaikan dan percepatan ekonomi seharusnya menjadi hal yang lebih dikedepankan dibandingkan bahasa.

Jika Kita masih bisa berkomunikasi dengan baik, lantas kenapa harus mempermasalahkan sebuah bahasa? (*)


*Rahman : Mahasiswa semester akhir program studi Komunikasi dan Penyiaran ISlam yang setiap minggunya membuka dan menjalankan gerakan sosial Perpustakaan Jalanan Besuki Membaca setiap hari Sabtu mulai pukul 16.00 – 21.00 di Alun-alun Besuki, Situbondo.

Comment
Gubuk Inspirasi
Gubuk Inspirasihttps://gubukinspirasi.com/
Gubuk Inspirasi adalah website berita sehari-hari yang berisi berbagai berita dan tulisan hangat dan ringan untuk menemani hari-harimu. Berkembang dan terus berevolusi secara perlahan dan pasti sembari membangun dan membentuk identitas sebagai sebuah website berita yang berbeda dan menarik Kirimkan tulisan dan karyamu ke redaksi kami melalui form kirim tulisan yang tersedia

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler