Sunday, October 2, 2022

Menyoal Keutuhan Nilai Moral  Santri di tengah Liberalisasi Budaya dan Informasi

NARASI, GUBUKINSPIRASI.com – Dengan membawa nilai-nilai dan budaya  keislaman yang tinggi, pesantren menjadi wahana dan rule model pendidikan keislaman terbesar di Indonesia. Banyak masyarakat di Indonesia yang memasrahkan putera-puterinya menimba ilmu, memperluas wawasan keislaman dan membina akhlakkul Karimah di Pondok Pesantren. Maka tak ayal, jika masyarakat menjadikan pesantren sebagai kiblat pendidikan dan pembinaan karakter keislaman untuk anak-anaknya.

Akhlak atau etika merupakan  nilai-nilai keislaman yang di junjung tinggi di Pondok Pesantren. Santri dituntut untuk selalu mengedepankan akhlak daripada kepintaran, sebagaimana hal yang dikatakan dalam maqolah ” Al adzabu fawqa Al Ilmi (adab lebih tinggi dari ilmu). Bagiamana cara berprilaku yang baik, bertutur kata yang sopan, dan bersosial yang baik antara satu sama lain, merupakan bagian doktrin akhlak yang selalu di cekoki di lingkungan pesantren. Juga, akhlak adalah cerminan jati diri dan identitas kesantrian yang melekat erat dalam kehidupan santri di Pesantren. Oleh sebab itu, akhlak menjadi nilai terpenting yang tak boleh hilang dalam kehidupan santri.

Namun seiring berkembangnya zaman dan pesatnya tekhnologi yang semakin canggih. Pesantren juga di tuntut untuk lebih gencar dalam menopang pendidikan karakter santri. Liberalisasi informasi dalam media sosial membuat pesantren harus lebih intensif dalam mengatur pola kehidupan santri. Tak sedikit, impact negatif yang telah banyak mempengaruhi bahkan, mulai sedikit menggeser keutuhan nilai nilai kesantrian terutama pada nilai moral santri.

Liberalisasi informasi dan konten demoralisasi banyak berseliweran di media sosial dewasa ini, mungkin hal ini patut dapat sorotan lebih dalam mengatur pola kehidupan santri agar leberalisasi informasi dan konten konten negatif tidak mempengaruhi nilai nilai kesantrian terutama dalam aspek moral atau akhlak.

Baca juga :  Sabar itu Indah

Realitanya seperti : omongan- omongan  tidak senonoh yang tidak pantas di ucapkan oleh para santri dalam kehidupan sehari hari. Hal itu merupakan sekelumit contoh yang galib kita jumpai di lingkungan pesantren dewasa ini. Perkataan kasar yang tersaji bebas dimedia sosial nyatanya sudah perlahan memasuki lingkungan pesantren. Yang nyatanya hal tersebut jelas lah bukan budaya pesantren sebagai kiblat moralitas bangsa.

Tak hanya itu masifnya  budaya luar yang masuk ke pesantren juga dapat menggeser dan merusak nilai nilai agamis yang da di lingkungan pesantren. Seperti berhubungan lawan jenis, pakaian-pakaian nyentrik an ketat banyak kita jumpai di lingkungan pesantren belakangan ini. Jika budaya budaya seperti ini terus kita jumpai di lingkungan pesantren tentunya hal tersebut akan menimbulkan impact yang luar biasa terhadap nilai-nilai agamis dipesantren. Kecacatan moral, kebobobrokan akibat budaya budaya luar juga akan merusak atmosfer lingkungan agamis di pesantren. Pesantren yang seharusnya menjadi kiblat moralitas dan kiblat tafaqquh fiddin akan tercoreng jika budaya budaya tersebut semakin merebak.

Oleh karenanya problematika di muka harus dapat memproleh perhatian lebih, upaya upaya preventif harus kita lakukan untuk menanggulangi masalah ini. Seperti halnya, mengatur pola bermedia sosial dan bergaul santri, lebih lebih ketika liburan dirumah. Bagaimana kita berintegrasi dengan orang tua  perihal pola bermedia sosial santri dirumah harus dalam pola yang cukup dan dibawah pengawasan orang tua. Juga, kita bisa berintegrasi dengan orang tua untuk mengawasi pola bergaul santri selama dirumah. Pesantren juga dapat memberikan regulasi ketat terhadap santri ketika dipesantren membatasi ruang gerak an celah yang dapat mempermudah masuknya budaya budaya luar kedalam Pesantren. Seperti, membuat regulasi razia baju non syariat lebih diperketat, juga hubungan selain mahrom lebih dibatasi, dan juga memberikan hukuman mendidik terhadap santri yang melontarkan kata kata tak senonoh atau kasar.

Baca juga :  Perlukah Bahasa Resmi untuk ASEAN?

Tak hanya itu, pendidikan karakter yang ada di Pesantren juga lebih digencarkan. Pihak pengurus dan ustad-ustazah di Pesantren juga harus dapat memberikan uswah Hasanah terhadap santri santri yang diayominya. Juga, melatih kepekaan dan kedewasaan santri untuk memilah dan memilih budaya, informasi, dan doktrin doktrin yang mengancam keutuhan nilai nilai kesantrian.

Jika hal dimuka dapat diwujudkan, niscaya  pesantren akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan tantangan yang ada dalam masifnya perkembangan teknologi dan zaman ini. Setiap lapisan di pesntren maupun diluar pesantren (Seperti orang tua dan alumni) juga harus ikut andil dalam menjaga keutuhan nilai-nilai agamis yang da di Pesantren.  Kesadaran untuk segera berbenah, meminimalisir, dan mengantisipasi hal tersebut harus kita gencarkan sedari sekarang. Jika kita masih abai terhadap problematika tersebut, maka jangan heran jika nantinya pesantren tidak dapat menjadi rule model dan kiblat moralitas ditengah kebobobrokan moral yang disebabkan oleh perkambanga zaman ini. Ironis bukan!


*Maziyatul Hosna seorang perempuan kelahiran 14 oktober 2002 yang sedang menempuh pendidikan di UNIVERSITAS NURUL JADID paiton probolinggo
penulis bisa disapa melalui Email : [email protected]

Comment
Gubuk Inspirasi
Gubuk Inspirasihttps://gubukinspirasi.com/
Gubuk Inspirasi adalah website berita sehari-hari yang berisi berbagai berita dan tulisan hangat dan ringan untuk menemani hari-harimu. Berkembang dan terus berevolusi secara perlahan dan pasti sembari membangun dan membentuk identitas sebagai sebuah website berita yang berbeda dan menarik Kirimkan tulisan dan karyamu ke redaksi kami melalui form kirim tulisan yang tersedia

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler