Wednesday, December 7, 2022

Kenali Penyebab dan Dampak Resesi Ekonomi, Beserta Cara Jitu Menghadapinya

EKONOMI, GUBUKINSPIRASI.com – Kata resesi belakangan menjadi topik hangat pasca sejumlah lembaga internasional dan para pejabat “meramalkan” akan terjadi resesi pada tahun 2023. Diberbagai media resesi ramai diberbincangkan di berbagai kalangan, mulai dari orang awam, akadimisi hingga ekonom.

Lalu apa sih resesi itu ? apakah berbahaya jika terjadi ? agar lebih mengenal resesi berikut penjelasannya !

Pengertian Resesi

Resesi adalah kondisi ekonomi negara sedang memburuk dan terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, hingga pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Resesi dapat terjadi saat aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan dalam waktu yang stagnan dan lama, bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Keadaan tersebut kemudian akan berdampak dalam kehidupan masyarakat.

Secara umum resesi terjadi saat ekonomi disuatu negara tumbuh negatif pada dua kuartal beruntun. Seperti yang diketahui, pada tahun 2020 lalu dunia mengalami resesi akibat terjadinya pandemi Covid-19. Walhasil, lapangan pekerjaan berkurang dan tidak sedikit pegawai yang dirumahkan.

Ketidakstabilan Ekonomi Saat Resesi (ilustrasi)

Penyebab Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi ditandai dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal beruntun. Penyebab terjadinya resesi adalah hal-hal terkait ekonomi dan teknologi yang saling berkaitan. Berikut penjelasan lengkap penyebab resesi ekonomi:

Guncangan Ekonomi

Guncangan ekonomi yang mendadak, seperti pandemi Covid-19 merupakan salah satu penyebab resesi ekonomi. Ini ditandai dengan lemahnya daya beli akibat kesulitan finansial.

Selain resesi, guncangan ekonomi juga bisa menyebabkan berbagai masalah ekonomi serius, seperti tumpukan utang. Utang yang banyak membuat biaya pelunasannya meninggi, bahkan hingga sampai ke titik tidak mampu melunasinya lagi.

Inflasi

Inflasi merupakan kondisi naiknya harga barang dan jasa selama periode tertentu. Inflasi yang berlebihan membuat daya beli masyarakat melemah. Di lain sisi, produksi barang dan jasa bakal menurun. Ini masuk dalam kategori berbahaya karena akan memicu pengangguran, kemiskinan, dan berujung pada resesi. Contohnya pada 2020 lalu dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, sekarang resesi terjadi karena tingginya inflasi akibat harga komoditas energi yang melesat.

Deflasi

Tak hanya inflasi, deflasi juga bisa menyebabkan resesi ekonomi. Deflasi ditandai dengan turunnya harga barang atau jasa. Sekilas deflasi bisa meningkatkan daya beli masyarakat, tapi jika terjadi berlebihan akan merugikan penyedia barang dan jasa.

Penurunan harga terus-menerus bisa membuat konsumen menunda pembelian dan menunggu hingga nominal terendah. Jika ini terjadi, daya beli justru melemah dan aktivitas produksi berkurang. Ketika individu dan unit bisnis berhenti mengeluarkan uang, ekonomi bakal rusak.

Tingginya Suku Bunga

Inflasi yang melambung membuat bank sentral menaikkan suku bunganya. Masalahnya, dua hal tersebut diperparah dengan daya beli yang mulai lesu dan bakal menjadi pemantik resesi.

Baca juga :  Dinosaurus di Indonesia !? Ada atau Tidak ?

Suku bunga yang tinggi berfungsi untuk melindungi nilai mata uang, tapi ini akan membebani debitur dan menyebabkan kredit macet. Jika terjadi secara besar-besaran, perbankan bisa kolaps.

Gelembung Aset Pecah

Gelembung aset juga menjadi salah satu penyebab resesi ekonomi. Fenomena gelembung aset biasanya terjadi di pasar saham dan properti. Investor mengambil keputusan gegabah yang akhirnya merusak pasar.

Mereka membeli banyak saham atau menumpuk properti dengan spekulasi bahwa harganya akan terus naik di masa depan. Namun, gelembung aset itu bakal ramai-ramai dijual ketika kondisi ekonomi sedang berantakan atau disebut panic selling. Jika ini terjadi, resesi ekonomi bakal makin dekat.

Perkembangan Teknologi

Penyebab resesi ekonomi tak hanya dari sektor ekonomi secara langsung, tapi juga berkaitan dengan teknologi. Adanya revolusi industri dikhawatirkan membuat Artificial Intelligence (AI) dan robot akan menggantikan banyak pekerjaan manusia. Jika ini terjadi, banyak pekerja yang berpotensi menjadi pengangguran dan resesi tak terhindarkan.

Daya Jual dan Daya Beli memengaruhi terjadinya Resesi (ilustrasi)

Ciri-ciri terjadinya Resesi Ekonomi

Berikut indikator yang menandai terjadinya resesi:

Pertumbuhan ekonomi yang negatif

Resesi ekonomi dapat terjadi saat pertumbuhan ekonomi di suatu negara berlangsung secara negatif hingga pada angka dua kuartal berturut-turut. Umumnya hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh ketidakstabilan dari investasi, pendapatan nasional, konsumsi, pengeluaran, hingga ekspor-impor. Jika hal tersebut terjadi terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, maka resesi akan sulit untuk dihindari.

Produksi dan konsumsi yang tidak seimbang

Bila kegiatan produksi berlebih, maka stok sebuah barang akan terus menumpuk. Padahal jumlah konsumsi yang lebih banyak dengan produksi akan berpotensi mendorong impor yang besar-besaran. Kondisi produksi dan konsumsi yang tidak seimbang ini membuat pengeluaran melambung tinggi dan laba perusahaan di dalam negeri semakin menipis.

Menurunnya lapangan kerja

Ciri resesi ekonomi lainnya adalah menurunnya lapangan pekerjaan membuat meningkatnya angka pengangguran dan menunjukkan lemahnya pertumbuhan ekonomi dari suatu negara. Jika hal ini terjadi, maka tingkat kriminalitas bakal naik tinggi. Akibat kian banyak perbuatan kriminal negara, maka dapat membuat investor kehilangan kepercayaan untuk menanamkan modal dan pada akhirnya suatu negara berpeluang untuk jatuh ke jurang resesi.

Apakah Indonesia Terancam Resesi Ekonomi ?

Indonesia seringkali dikaitkan dengan banyak negara yang dianggap terjerat krisis dan resesi. Bahkan, ada juga beberapa analisis yang mengkhawatirkan Indonesia akan terjerat krisis seperti Sri Lanka.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menegaskan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perekonomian Indonesia masih sangat bagus. Namun, Indonesia harus tetap waspada dan akan terus memonitor potensi resesi.

Baca juga :  10 Kopi Lokal Indonesia yang Mendunia

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, indikator ekonomi Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, transaksi berjalan, neraca pembayaran Indonesia (NPI), hingga ekspor impor masih sangat baik. Namun, nilai tukar terus melemah dan menunjukkan kinerja yang buruk.

Apa yang Harus dilakukan jika terjadi Resesi ?

Indonesia memang masuk dalam daftar 15 negara yang terancam resesi ekonomi. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bloomberg, risiko resesi yang akan dihadapi Indonesia terbilang rendah, yakni hanya 3%.

Lantas bagaimana pengelolaan keuangan pribadi agar tahan guncangan resesi? Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan:

Menabung adalah salah satu solusi untuk hadapi resesi ekonomi

1. Siapkan dana darurat – Pastikan 20% dari dana yang kalian gunakan untuk investasi dialokasikan untuk dana darurat pada instrumen yang sangat likuid dan disiplin mempersiapkannya. Semakin besar proporsinya maka akan semakin siap kalian dalam memenuhi kebutuhan di tengah kondisi resesi ekonomi. Perlu diingat ya sobat, hal ini sangat penting karena bisa saja Sobat kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja tutup.

2. Mengurangi beban keuangan – Mulailah untuk mengurangi dan tidak menambah beban-beban pengeluaran seperti utang, jika memungkinkan maka segera lunasi atau jika dirasa masih sangat berat maka segera negosiasikan ajukan ke lembaga jasa keuangannya untuk restrukturisasi. Jangan anggap enteng utang meskipun hanya dari kartu kredit karena kamu tidak akan tahu kondisi keuanganmu ketika resesi ekonomi menerpa.

3. Investasi – Lihat kembali portofolio investasimu, jika kondisi pasar global sudah mulai menurun maka segeralah atur ulang portofolio investasimu kedalam bentuk yang lebih aman seperti emas.

4. Gaya hidup yang lebih baik – Hiduplah dengan sewajarnya dan tetap lakukan konsumsi seperti biasa karena ini bisa membantu ekonomi tetap tumbuh. Konsumsi masyarakat berperan besar pada pertumbuhan ekonomi. Namun, kita tetap perlu berkomitmen pada rencana keuangan dengan tetap menyisihkan uang untuk tabungan dan investasi serta dahulukan kebutuhan. Kurangi pembelian-pembelian sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan, apalagi sifatnya hanya kesenangan jangka pendek.

5. Mencari Peluang – Cermati perkembangan kondisi ekonomi terbaru dan mulailah memanfaatkan peluang disekitarmu yang dapat bernilai ekonomi. Jangan ragu untuk usaha kecil-kecilan jika dirasa kondisi keuanganmu masih lemah, karena kamu jelas butuh tambahan penghasilan untuk menopang keuangan keluarga. Ingat kata ilmuwan Albert Einstein “in the midst of every crisis, lies great opportunity” 

Meski dinyatakan berpeluang renda untuk resesi, warga Indonesia harus tetap waspada. Resesi akan terus menjadi momok, terutama beberapa bulan kedepan. Sehingga dengan lebih mengenal resesi ekonomi akan membantu kita menghadapinya.

Comment
PID
PID
Seorang bapak tanpa anak yang sebenarnya jarang menulis tapi ingin ikut-ikutan narsis

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler