Wednesday, December 7, 2022

Figur Perempuan Sebagai Pemimpin

Islam datang ketika sebagian orang memungkiri eksistensi perempuan sebagai manusia, sebagian lain ada yang meragukannya, dan sebagian lain lagi mengakui eksistensi kemanusiaannya, tetapi mengangapnya sebagai ciptaan Tuhan untuk melayani laki-laki. Dan ia tidak berhak menjadi seorang pemimpin.

Namun, dalam forum kajian yang telah kami tela’ah mengenai Kesetaraan Gender khususnya di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memberikan sudut pandang yang positif terhadap perempuan, terutama dalam hal peran perempuan menjadi pemimpin. Sehingga pengistilahan deskriminasi terhadap perempuan, kini sudah mulai berguguran diambang pintu.

Dikatakan, Meskipun laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan dari segi biologis sedangkan dari segi psikologis tidak ada perbedaan antara keduanya. Namun, bukan berarti laki-laki lebih mulia atau lebih dekat kepada Tuhan-Nya dibandingkan perempuan. Sebab, bukankah yang lebih mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa, dan yang paling baik amalnya baik laki-laki dan perempuan? tapi, tetap ia harus mengikuti prosedur tanpa megesampingkan haknya seorang perempuan terhadap laki-laki. Begitupun sebaliknya.

Menurut hemat penulis, Perbedaan tersebut bukanlah hal untuk membedakan. Perbedaan itu tidak sekedar permainan kata-kata belaka. Tapi, sebuah hal yang harus difahami. Karena dengan perbedaan itulah segala kebaikan muncul. Pria dan perempuan keberadaannya sangat menentukan perkembangan dunia ini. Khususnya perempuan. Sosok yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang ini mempunyai potensi dan kekuatan yang begitu besar.

Selama ini keberadaan perempuan sangat dikesampingkan sekali. Geraknya tidak pernah dijadikan perhatian. Tapi, ketika semua orang mengetahui potensi besarnya perempuan merupakan pusat hal yang diperhatikan. Kemajuan peran perempuan di dalam kepemimpinan di Indonesia sungguh luar biasa. Keinginan para perempuan untuk mendapatkan jatah lebih besar di dalam kancah politik pun akhirnya terakomodasi.

Baca juga :  Ketua PBNU Alissa Wahid: Perempuan NU Dan Pesantren Sebagai Peran Utama Bukan Pendamping

Anggapan bahwa, perempuan lebih rendah (lemah) daripada laki-laki, sehingga menyebabkan kaum perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, itu menunjukkan bahwa mereka masih terbelenggu dengan budaya patriarki. Yaitu “suatu budaya yang lebih mengedepankan atau mengistimewakan peran laki-laki di atas perempuan”.

Budaya ini menganggap bahwa kaum laki-laki memiliki keunggulan yang lebih dalam berbagai bidang dibanding perempuan. Budaya ini sudah melekat dalam paradigma masyarakat umum hingga saat ini. Dan, banyak juga kaum wanita yang “mengamini” adanya hal itu. padahal, antara laki-laki dan perempuan ialah “setara”. Tapi kata setara disini bukan berarti sama. Jadi, bagi kaum perempuan boleh menuntut haknya untuk tampil di ruang publik dan menjadi pemimpin apalagi di Negara republik ini, khususnya Indonesia.

Diakui atau tidak, perempuan mempunyai keunggulan lebih yang tidak bisa dimiliki oleh kaum laki-laki. jika ada anggapan Islam pada umumnya bahwa perempuan lebih lemah, perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Sebab, jika melihat kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya.

Sejarah mencatat bahwa banyak pemimpin hebat di dunia yang tidak berasal dari kaum laki-laki. Kita pasti kenal yang namanya Cleopatra, Corie Aquino, Margareth Theacher, Benazir Butho, dan jauh lebih hebat lagi yaitu Ratu Balqis yang bisa membawa kemakmuran bagi negaranya sehingga hampir menandingi kerajaan Nabi Sulaiman AS. Kehebatan Ratu Balqis telah diabadikan di dalam al-Qur’an. (baca: al-An’am: 23-44).

Selain itu, kita pasti juga kenal dengan istri Rasulullah SAW, yaitu Siti Aisyah. Beliau adalah salah satu muslimat yang paling meriwayatkan Hadits Nabi. Tingkat kecerdasannya diakui oleh para sahabat. Sehingga, banyak dari para sahabat yang sering meminta pendapat beliau ketika hendak memecahkan permasalahan. Bahkan, dikisahkan juga bahwa Aisyah merupakan tokoh yang menjadi pemimpin pada saat perang Jamal (perang unta). Yaitu, perang antara golongan Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Aisyah.

Baca juga :  Sinergi KKN Unuja dengan Anggota Paguyuban dalam Melakukan Restorasi Tangkis Sungai Kali Juma'in

Jadi, kepemimpinan seorang pemimpin sangat menentukan baik buruknya suatu negara. Bukan suatu masalah jika negara dipegang oleh laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana dikatakan oleh Aritoteles di sebuah literatur sejarah filsafat yunani, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang jujur, cerdas, tegas, adil, bijaksana, serta takluk pada hukum. Dengan demikian, negara akan lebih mudah mencapai tujuannya. Maka dari itu, jika memang perempuan memiliki kualitas yang baik dan mumpuni, maka tidak ada larangan bagi mereka untuk maju menjadi seorang pemimpin.

Sebagai Pimpinan mempunyai peran yang sangat besar untuk memimpin bawahannya, mengeksekutor bagi janjinya-janjinya, kata-kata yang tidak di tepati dan tidak diperjuangkan menjadi kenyataan, bukanlah janji, tapi ilusi. Tentu seorang pemimpin yang jujur bukanlah ilusionis. Memimpin berarti berjanji dan menepati janjinya. Memimpin berarti menciptakan harapan dan menjadikan realitas sosial. Pemimpin seharusnya menjelmakan kebenaran dan akan janji sebagai realitas sosial, tak ragu walaupun mengorbankan kekuasaannya untuk menepati janjinya, jangan sampai janjinya dijadikan sebagai kata-kata pemanis bibir belaka. (*)

* Rofiqotul Afifah Firdausiyah, penulis muda kelahiran Situbondo.
Comment
Gubuk Inspirasi
Gubuk Inspirasihttps://gubukinspirasi.com/
Gubuk Inspirasi adalah website berita sehari-hari yang berisi berbagai berita dan tulisan hangat dan ringan untuk menemani hari-harimu. Berkembang dan terus berevolusi secara perlahan dan pasti sembari membangun dan membentuk identitas sebagai sebuah website berita yang berbeda dan menarik Kirimkan tulisan dan karyamu ke redaksi kami melalui form kirim tulisan yang tersedia

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler