Wednesday, December 6, 2023

Selepas Senja dan Puisi Lain Karya Sulusiyah

Selepas Senja

Selepas senja,
Sebuah jumpa menghangatkan takdir Sang Kuasa
Menjuntaikan rindu,
Pun kenangan yang nganga

Selepas senja,
Percakapan terburai di antara kata
Menjelma episode-episode
Terangkai sebuah cerita

Selepas senja,
Bau tubuhmu selaksa angsoka
Hablur dalam riak-riak tawa
Hingga surut air mata

Selanjutnya,

Tak ada lagi kembara
Membentang antara rindu yang sama
Waktu yang menua,
Bahkan raga tak lagi muda

Karena,

Selepas senja,
Waktuku
Waktumu
Melipat keriput bersama


Di Atas Sajadah (1)

Mas,
Jika bulan telah bergelambir di pucuk cemara
Lekaslah berwudhu
Lakukan 2 rakaat tahajjud
Atau setidaknya regangkanlah jemarimu

Mas,
Pintalah kebaikan pada sekujur nasibmu
Entah rezeki, umur, ajal,
Bahkan karib setia penghilang jemu
Kawan sekata melipat usia

Mas,
Jika bulan telah keriput
Jangan lagi-lagi kau buang waktu
Segera tunaikan pintamu
Agar tak lagi resah pilihanmu

Mas,
Bukan hanya itu pesanku!

Dengarlah,
Di tempat berbeda
Tanganku terangkat
mengetuk pintu langit
sama sepertimu

Kau tau apa pintaku mas?,
Aku ingin kata halal
Mengantarmu esok
Di depan ayahku.


Di Atas Sajadah (2)

Dik,
Jika hyang wulan rekah cahayanya
Segeralah bersihkan dirimu
Dirikanlah 2 rakaat tahajjud
Angkat tanganmu…….

Dik,
Jangan malu-malu meminta
Pintalah segala inginmu
Tentang waktu, kepastian,
Bahkan aku yang kau tunggu

Dik,
Di tempat yang berbeda
Ku regangkan kedua tanganku
Jika kau rasakan hangat di antara jemarimu
Itulah tanganku meneguhkan do’amu

Dik,
Satu pesanku,

Dengarkanlah ….
Selagi do’amu memenuhi seluruh penjuru
Pintalah pada-Nya
Rayulah jika memang perlu

Mohonkan padanya dik,

“Teguhkanlah hatiku
Dengan memilihmu
Agar kata halal dapat ku antar
Di hadapan walimu”.


Hujan Air Mata

:Selepas kesakitan sebab manusia

Siang bertandang mengetuk pintu

Baca juga :  Tolong - Sebuah Puisi oleh Irfan Burhanuddin

Pada tangannya sepucuk surat tergenggam
Serupa firman Tuhan ia bacakan isinya
“Hari ini dan hari setelahnya, harapan hanya jadi harapan.
Tak akan kunjung purnama bila ‘lah restu jadi penghalang”
Tuturnya dengan suara tertahan

Ia tahu,
Sebab ia juga saksi bisu
Antara rindu yang bermunajat
Meminta Tuhan membiarkannya tetap

Nahas,
Mendung tak bisa diterka
Hujanpun luruh dari bola matanya
Serupa anak Sungai yang menuju muara

Siang bertandang mengetuk pintu
Wajahnya sembab tak lagi bersemu
Duduk menatap barisan kata yang membisu
Sebab restu hanya harapan semu

Comment
Editor at Gubuk Inspirasi Media | Website | + posts

Penulis serba bisa yang membantu banyak proses redaksional dan editorial di Gubuk Inspirasi.

Eugene Bard
Eugene Bardhttps://gubukinspirasi.com/
Penulis serba bisa yang membantu banyak proses redaksional dan editorial di Gubuk Inspirasi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terpopuler

Verified by MonsterInsights